Sunday, March 11, 2007

muntahan hati



Kulihat ibu pertiwi

sedang bersusah hati
air matanya berlinang
emas intan yang terkenang

hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang lara
merintih dan berdoa


Benar-benar bersusah hati. Ibarat pohon mangga, sang ibu pertiwi sekarang sedang meranggas. Bukan apa-apa, pohon mangga yang subur dengan buah-buahnya ini, ditimpuki anak-anak, diterpa hujan badai pucuk-pucuk daunnya, banjir sampai mencapai 5-per-6 bagian tingginya, longsor tanah tempat sang akar menggantung, kepanasan dahan kering kerontang, jadi bahan amukan hama (wereng berdasi, tikus-tikus busuk, ulat-ulat berbulu palsu, kecoak-kecoak bau, juga cacing-cacing dan semut-semut nakal..)

Dari luar dan dalam negri, di atas dan di perut bumi, musibah seakan-akan senang sekali berdekatan dengan kita, layaknya sedarah sedaging. dari ujung barat sampai ujung timur, bencana dan musibah silih berganti berkunjung tanpa kita--hah, apa kita cukup berharga untuk--mengirim undangan. Pergolakan memang tengah mendera tanah ini.

26 Desember 2004 mulut kita menganga, mata kita berair, hidung kembang kempis, ketika sang telinga mendengar, sang mata membaca dan menonton, gelombang air raksasa menghantam dan meluluhlantakkan saudara tercinta kita di ujung paling barat negeri tongkat-kayu-dan-batu-jadi-tanaman.
27 Mei 2006 kembali tumpah sisi melankolik kita. Jogja bergetar, 6 skala Richter! Bersamaan LuSi yang tidak cantik menghadiahi kita dengan semburan muntahan cair yang tentu saja sangat tidak mengenakkan, mending saja kalo bisa diibaratkan muntahan yang murni polos dari sesosok bayi mungil, hanya saja, muntahan ini nampaknya dikeluarkan oleh kakek-bau-tamak-rakus yang ingin memasukkan seluruh makanan ke mulut keriputnya.. ueeeeek.
26 Januari 2007, Jakarta yang biasanya kerontang, tumben-tumben kelebihan air, 5 meter terukur di atas bumi oleh penggaris-plastik-hello-kitty kita.

dan yang sangat fenomenal saudara..
17 Agustus 1945 s.d. 11 maret 2007 (dan amat sangat mungkin sekali masih terjadi pada saat anda baca tulisan ini); praktek penjajahan oleh elit, korupsi, kebodohan masyarakat, tidak amanahnya pemegang jabatan publik, pertentangan sesama; seakan menjadi musibah PALING BESAR orang nusantara..

Kapan saudara, kapan ini akan berakhir?

Kita seakan sudah bisa beradaptasi dengan keadaan ini. Sudah imun. Sampai lupa kita merenung kenapa hal ini terjadi pada kita?!! Lupa? ya, karena kita orang adalah bangsa yang punya memori cukup terbatas. Hari ini marah, besok bangun tidur sudah tak ingat, hatta bagaimana rasa marah itu sendiri.

Bagus kiranya kalau kita tanya pada diri ini, sekarang, banget, sekarang banget. Apakah kita bisa mengambil hikmah dari seluruh kegetiran-kegetiran yang ada?
Tanya saja, ayo tanya, tak apa-apa, biarkan hati kecil yang menjawab..






"Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri".
(TQS Yunus : 44)

No comments: