Saturday, December 02, 2006
Buku, Pesta dan Cinta
---
Pemuda ’80-an, apalagi yang beruntung mengecap status pelajar atau mahasiswa (mari untuk selanjutnya kita hanya memakai istilah yang ‘mahasiswa’ saja), mungkin akan sangat akrab sekali dengan istilah yang saya jadikan penggalan judul di atas. Dengan santai, individu-individu intelektual ini menginternalisasikan gaya hidup di atas ke dalam aktivitas keseharian.
Tak heran sebetulnya, kita tahu akhir dasawarsa ’70-an terjadi perubahan radikal aturan main pendidikan, khususnya yang berhubungan dengan pendidikan tinggi. Dipicu oleh aksi berani DEMA-ITB tahun ’78, pemerintah kemudian secara sistematis men-depolitisasi kampus melalui Undang-undang NKK/BKK-nya. Dampaknya sangat besar bagi kultur hidup mahasiswa. Pendidikan kemudian pada akhirnya terbatas hanya pada ruang-ruang kuliah saja, full kognitif dengan sangat sedikit sekali—kalau tidak bisa dibilang tak ada—sentuhan afektif. Pemuda mahasiswa hanya diberikan pilihan untuk berprestasi secara akademik an sich, berpolitik dilarang keras, tak boleh mendirikan organisasi yang bersifat massal. Haram. Efeknya? -> buku, pesta dan cinta (ho ho ho). Mahasiswa tidak memiliki wadah beraktivitas, sudah untung sebagian (kecil) bisa lari ke kelompok-kelompok diskusi. Sisanya? Enjoy aja (maaf beribu maaf bukan iklan rokok).
Kita tutup dulu bab ‘mahasiswa yang berafiliasi di kelompok-kelompok diskusi’, kita fokus ke calon-calon insan cendikia yang lebih realistis memandang hidup saat itu (?).
Oke, Buku, Pesta dan Cinta. Buku artinya belajar, benar-benar teoritis, cenderung mekanistik. Mungkin sesuai dengan yang disyairkan Rendra:
"Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan."
Jadinya tak ada karya sosial yang bisa dibanggakan pada kala itu. Karena aspek riil (uraian) yang menyentuh ke masyarakat hampir dengan sukses tersunat oleh sistem pendidikan yang berbasis individualisme.
Karena minim sekali pembelajaran sosial, para calon cendikiawan tersebut pun akhirnya mencari pelarian pada kesenangan individu: Pesta dan Cinta.
(berhubung sedang sedikit kecapean tulisan ini akan dilanjutkan nanti saja)
Pemuda ’80-an, apalagi yang beruntung mengecap status pelajar atau mahasiswa (mari untuk selanjutnya kita hanya memakai istilah yang ‘mahasiswa’ saja), mungkin akan sangat akrab sekali dengan istilah yang saya jadikan penggalan judul di atas. Dengan santai, individu-individu intelektual ini menginternalisasikan gaya hidup di atas ke dalam aktivitas keseharian.
Tak heran sebetulnya, kita tahu akhir dasawarsa ’70-an terjadi perubahan radikal aturan main pendidikan, khususnya yang berhubungan dengan pendidikan tinggi. Dipicu oleh aksi berani DEMA-ITB tahun ’78, pemerintah kemudian secara sistematis men-depolitisasi kampus melalui Undang-undang NKK/BKK-nya. Dampaknya sangat besar bagi kultur hidup mahasiswa. Pendidikan kemudian pada akhirnya terbatas hanya pada ruang-ruang kuliah saja, full kognitif dengan sangat sedikit sekali—kalau tidak bisa dibilang tak ada—sentuhan afektif. Pemuda mahasiswa hanya diberikan pilihan untuk berprestasi secara akademik an sich, berpolitik dilarang keras, tak boleh mendirikan organisasi yang bersifat massal. Haram. Efeknya? -> buku, pesta dan cinta (ho ho ho). Mahasiswa tidak memiliki wadah beraktivitas, sudah untung sebagian (kecil) bisa lari ke kelompok-kelompok diskusi. Sisanya? Enjoy aja (maaf beribu maaf bukan iklan rokok).
Kita tutup dulu bab ‘mahasiswa yang berafiliasi di kelompok-kelompok diskusi’, kita fokus ke calon-calon insan cendikia yang lebih realistis memandang hidup saat itu (?).
Oke, Buku, Pesta dan Cinta. Buku artinya belajar, benar-benar teoritis, cenderung mekanistik. Mungkin sesuai dengan yang disyairkan Rendra:
"Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan."
Jadinya tak ada karya sosial yang bisa dibanggakan pada kala itu. Karena aspek riil (uraian) yang menyentuh ke masyarakat hampir dengan sukses tersunat oleh sistem pendidikan yang berbasis individualisme.
Karena minim sekali pembelajaran sosial, para calon cendikiawan tersebut pun akhirnya mencari pelarian pada kesenangan individu: Pesta dan Cinta.
(berhubung sedang sedikit kecapean tulisan ini akan dilanjutkan nanti saja)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment